Blog>Produk Pilihan>Motolab: Di Balik 2.000+ Pesanan Harian, Bagaimana WMS BigSeller Merombak Total Efisiensi Pengiriman Gudang Aksesoris Motor

Motolab: Di Balik 2.000+ Pesanan Harian, Bagaimana WMS BigSeller Merombak Total Efisiensi Pengiriman Gudang Aksesoris Motor

Budiman23 Jun 2026 02:08Copy link & title

Di pasar e-commerce Filipina, suku cadang dan aksesori sepeda motor (motorparts) merupakan kategori produk dengan tingkat pembelian ulang yang tinggi dan permintaan yang stabil. Namun, manajemen pengiriman gudang untuk kategori ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi. Produk aksesori motor memiliki variasi model yang sangat banyak dan spesifikasi yang sangat detail; banyak produk terlihat mirip secara visual, padahal diperuntukkan bagi model kendaraan, posisi pemasangan, atau ukuran yang berbeda. Bagi penjual, berhasil menjual barang barulah langkah pertama. Tantangan operasional yang sebenarnya terletak pada kemampuan gudang untuk mengirimkan barang dengan cepat dan akurat di tengah volume pesanan yang tinggi.

Motolab adalah salah satu brand e-commerce di kategori aksesori motor yang tumbuh pesat di pasar ini. Didirikan pada tahun 2024, Motolab berfokus menjual aksesori motor berkualitas dengan harga kompetitif. Melalui kolaborasi brand dan model bisnis lintas batas (cross-border), Motolab mengoperasikan toko di tiga platform utama secara bersamaan: Shopee, Lazada, dan TikTok Shop. Pada tahun 2025, GMV Motolab telah menembus angka 270 juta Peso Filipina (PHP), dengan volume pesanan harian stabil di angka 2.000+ pesanan.
 

Volume Pesanan Melonjak, Proses Gudang Manual Mulai Keteteran

Sebelum mengadopsi BigSeller, proses penanganan pesanan online Motolab sebagian besar masih mengandalkan operasi manual. Pesanan dari berbagai platform harus diperiksa dan direkap satu per satu secara terpisah, lalu staf gudang akan mengambil barang (picking), mencocokkan, dan mengemasnya hanya berdasarkan pengalaman visual. Saat volume pesanan masih rendah, cara manual ini mungkin masih bisa diandalkan. Namun, ketika pesanan harian menembus angka 2.000, ritme kerja gudang mulai sering kacau dan kewalahan.

Bagi penjual aksesori motor, risiko salah kirim barang sangatlah tinggi. Untuk memastikan apakah sebuah aksesori sudah benar atau belum, tim tidak bisa hanya melihat nama produknya saja, melainkan harus memeriksa detail SKU, spesifikasi, kecocokan model motor, hingga posisi kanan/kiri. Di bawah tekanan kerja yang tinggi, staf gudang yang melakukan pengecekan manual sangat rentan melakukan kesalahan seperti salah ambil barang, salah kirim, atau barang tertinggal (kurang kirim).

Begitu terjadi salah kirim, dampaknya bukan sekadar komunikasi layanan pelanggan (CS) biasa. Pembeli mungkin tidak bisa memasang aksesori tersebut, pesanan harus diretur dan ditukar, tim CS harus memberikan penjelasan, gudang harus memproses ulang, dan pada akhirnya, performa pemenuhan pesanan (fulfillment) serta rating toko di platform akan merosot.

Ketika penjualan di lini depan terus tumbuh, gudang di lini belakang justru perlahan menjadi batu sandungan baru (bottleneck).

Memilih BigSeller: Dari Uji Coba Fitur hingga Kemitraan Jangka Panjang

Motolab pertama kali mengenal BigSeller melalui rekomendasi dari rekan bisnis. Setelah melakukan beberapa kali komparasi fitur dan melihat ulasan positif, mereka mulai mencoba sistem ini dan secara bertahap bertransformasi menjadi pengguna jangka panjang. Hingga saat ini, Motolab telah bermitra erat dengan BigSeller selama 2 tahun.

Bagi Motolab, nilai utama BigSeller tidak hanya sebatas mengintegrasikan pesanan dari tiga platform ke dalam satu dasbor terpusat. Lebih dari itu, BigSeller mampu menghubungkan seluruh ekosistem mulai dari pemrosesan pesanan, aktivitas operasional gudang, proses pengiriman, hingga pengadaan stok (purchasing). Di antara semuanya, perubahan yang dibawa oleh fitur WMS (Warehouse Management System) adalah yang paling signifikan.

"Setelah menggunakan BigSeller, efisiensi kerja karyawan dan akurasi pengiriman kami meningkat sangat pesat. Di antara semua fitur, bantuan dari fungsi WMS adalah yang paling terasa dampaknya," ungkap penanggung jawab Motolab.

Metode Implementasi: Mematangkan Alur Kerja Riil di Lapangan

Bisa atau tidaknya suatu sistem berfungsi optimal, kuncinya bukan hanya pada kecanggihan fiturnya saja, melainkan pada seberapa pas fitur tersebut dapat diterapkan pada kondisi riil gudang klien.

Tim BigSeller tidak hanya memberikan penjelasan fitur dari jarak jauh, melainkan terjun langsung ke gudang Motolab untuk memahami tata letak (layout) gudang, jenis produk, kebiasaan kerja karyawan, serta jalur pemrosesan pesanan. Fokus utama tim di awal bukanlah "seberapa banyak fitur yang harus diaktifkan", melainkan bagaimana memastikan 2.000+ pesanan yang masuk ke gudang Motolab setiap harinya dapat diproses dengan stabil dan teratur.

Beberapa poin penting yang dianalisis meliputi:

  • Dari platform mana pesanan masuk? Pesanan mana saja yang bisa digabungkan menjadi satu batch?

  • Produk mana saja yang memerlukan pengawasan ekstra agar tidak salah ambil?

  • Bagaimana petugas picking tahu barang apa saja yang harus diambil?

  • Bagaimana petugas packing memastikan bahwa barang dan paket yang dicetak sudah cocok?

  • Bagaimana cara meminimalkan salah scan atau salah kirim sebelum paket keluar dari gudang?
     

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan ini, BigSeller membantu Motolab mengubah proses gudang yang tadinya sangat bergantung pada ingatan dan pengalaman manual, menjadi sistem operasional terstandarisasi yang berpusat pada WMS.
 

Mekanisme Inti: Manajemen Gelombang (Wave Management)

Wave (Gelombang) adalah logika inti dari sebuah WMS—yaitu mengelompokkan pesanan dengan atribut yang sama atau mirip ke dalam satu tugas batch yang sama untuk memproses pengambilan barang (picking), cetak resi (printing), dan pengemasan (packing) secara massal. Bagi penjual dengan volume pesanan besar, Wave bukan sekadar mengumpulkan pesanan jadi satu, melainkan menggunakan sistem untuk menata ulang ritme kerja gudang.

Karena produk Motolab mayoritas merupakan produk bermerek/memiliki label yang jelas, sistem dapat menerapkan strategi Wave untuk mengelompokkan pesanan yang cocok diproses bersamaan menjadi satu tugas batch. Motolab utamanya menggunakan 5 jenis tipe Wave untuk mengoptimalkan operasional mereka.

Bagaimana Alur Pergerakan Pesanan di Dalam Gudang?

Berikut adalah gambaran alur lengkap proses pemenuhan pesanan setelah WMS BigSeller mengambil alih, mengambil contoh dari satu pesanan aksesori motor di Motolab:

  1. Sinkronisasi Pesanan & Pembuatan Wave: Begitu pembeli membuat pesanan di Shopee, pesanan otomatis tersinkronisasi ke BigSeller. Sistem melakukan penyaringan awal berdasarkan status pesanan, kondisi stok, dan gudang pengiriman. Setelah admin gudang mengatur pesanan, pesanan tersebut masuk ke halaman Wave WMS, di mana sistem akan membuat tugas batch berdasarkan strategi gelombang yang ditentukan.

  2. Pengambilan Barang (Picking): Supervisor gudang membagikan tugas Wave kepada petugas picking yang bersangkutan. Petugas mengambil barang berdasarkan daftar picking list, daftar ringkasan, atau tugas di aplikasi Android/PDA. Mereka tidak perlu lagi mengecek pesanan per platform secara manual atau menebak-nebak batch mana yang harus didahulukan. Sistem menyatukan pesanan dalam batch yang sama, sehingga karyawan dapat mengambil barang fokus berdasarkan SKU dan tugas, mengurangi waktu berjalan mondar-mandir, serta meminimalkan barang terlewat atau salah ambil.

  3. Penyortiran (Sorting): Setelah barang selesai diambil, pesanan masuk ke tahap penyortiran. Karyawan melakukan penyortiran kedua dengan memindai (scan) SKU produk, GTIN, atau kode produk. Sistem akan memberikan petunjuk ke keranjang/kotak sortir mana produk tersebut harus dimasukkan, sehingga tidak lagi mengandalkan penilaian mata telanjang.

  4. Verifikasi Pengemasan (Packing Check): Petugas packing memindai label produk, nomor paket, nomor resi, atau nomor pesanan untuk mencocokkan produk dengan paket yang sesuai. Dalam proses ini, pencetakan label pengiriman (resi) dan konfirmasi pengemasan dilakukan sekaligus. Bagi Motolab, proses ini berfungsi sebagai pos pemeriksaan sistem (double check) ekstra sebelum barang keluar dari gudang.

  5. Pengiriman (Shipping): Setelah paket masuk ke daftar siap kirim, gudang dapat menyelesaikan proses pengiriman dengan memindai nomor resi atau nomor paket. Pengiriman juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan, baik menggunakan fitur pengiriman otomatis maupun manual. Setelah paket berhasil dikirim, status pesanan akan berubah menjadi menunggu pikap kurir, dan stok yang terkait langsung terpotong otomatis.

Di sepanjang alur ini, setiap langkah dijembatani oleh status sistem yang jelas, dan setiap tahap memiliki catatan pemindaian (scanning) atau tugas teratur yang memangkas kesalahan manusia (human error). Bagi Motolab yang mengelola 2.000+ pesanan harian, fitur Wave tidak hanya meningkatkan efisiensi di satu lini saja, melainkan membangun kembali ritme kerja seluruh gudang menjadi lebih sehat.


 

Sinergi Pengadaan: Restock Barang Mengikuti Ritme Gudang

Masalah gudang tidak hanya terjadi di lini pengiriman keluar (outbound). Semakin banyak pesanan, perputaran stok akan semakin cepat. Jika ritme pengadaan barang (restock) tidak dapat mengimbangi, produk yang sedang laris (hot-selling) akan rentan mengalami kelangkaan (out of stock). Sebaliknya, jika data pembelian dan data gudang tidak sinkron, hal ini akan memicu salah prediksi stok yang mengacaukan rencana pengiriman berikutnya.

Selain memanfaatkan WMS, Motolab juga mengombinasikannya dengan modul Pembelian (Purchasing) dari BigSeller. Saat pesanan penjualan terus mengalir, perubahan stok di dalam sistem dapat mencerminkan keputusan pembelian berikutnya dengan sangat jelas—aksesori mana yang menipis dengan cepat, SKU mana yang perlu segera di-restock, serta produk mana yang harus disiapkan stoknya menjelang kampanye/mega sale. Semua ini dapat dideteksi lebih cepat oleh tim melalui data sistem.

Ketika pemrosesan pesanan, perubahan persediaan, pengadaan stok, hingga pengiriman akhir saling terhubung, barulah pertumbuhan bisnis yang stabil dapat ditopang dengan kokoh.


 

Perubahan Efisiensi yang Dampaknya Terasa hingga ke Luar Gudang

Setelah efisiensi gudang meningkat, tim internal adalah pihak pertama yang merasakan perubahan positif tersebut.

Karyawan tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek pesanan, mencari barang, dan mencocokkannya berulang kali secara manual. Ritme kerja menjadi lebih jelas dan efisiensi pemrosesan pesanan otomatis meningkat. Tekanan kerja seperti lembur akibat gudang yang berantakan, pengerjaan ulang (rework), serta komplain layanan purnajual kini berkurang secara signifikan.

Perubahan nyata ini tercermin pada beberapa aspek berikut:

  • Tingkat Kesalahan Salah Ambil Barang: Berhasil ditekan drastis dari yang tadinya 5%-10% dengan metode manual, kini menjadi kurang dari 1%.

  • Kecepatan Pengiriman: Waktu pemrosesan pesanan menjadi jauh lebih singkat, memastikan paket siap diserahkan ke kurir tepat waktu.

Lebih jauh lagi, perubahan di area gudang ini pada akhirnya bermuara pada peningkatan pengalaman pelanggan (customer experience).

Ketika pesanan diproses lebih cepat dan barang dikirim dengan lebih akurat, waktu tunggu pembeli menjadi lebih singkat. Risiko pembeli menerima barang yang salah pun berkurang, yang secara otomatis mendongkrak penilaian positif konsumen terhadap kecepatan pengiriman serta stabilitas pemenuhan pesanan toko.

Bagi Motolab, peningkatan efisiensi gudang ini secara tidak langsung mendatangkan volume penjualan ekstra berkat ulasan positif pelanggan mengenai kecepatan pengiriman toko mereka.

Hal ini membuktikan bahwa gudang bukanlah "pusat biaya" (cost center) tersembunyi yang berada di lini belakang. Bagi penjual e-commerce dengan volume pesanan tinggi, efisiensi gudang itu sendiri adalah kompetensi krusial yang memengaruhi konversi, ulasan, hingga pembelian berulang (repeat order).
 

Memulai dari Standardisasi Gudang untuk Menopang Pertumbuhan Fase Berikutnya

Pertumbuhan pesat Motolab membuktikan bahwa ketika bisnis e-commerce telah mencapai skala tertentu, persaingan tidak lagi hanya terjadi di lini depan seperti perebutan trafik iklan atau perang harga produk.

Ketika pesanan dari berbagai platform terus mengalir tanpa henti, penentu utama apakah seorang penjual dapat terus tumbuh atau tidak adalah kemampuan lini belakang untuk menyambut dan memproses pesanan tersebut dengan stabil.

Bersama BigSeller, Motolab berhasil mengupgrade proses operasional gudang yang dulunya bergantung pada pengalaman manual menjadi sistem operasi terstandarisasi berbasis WMS. Melalui pemrosesan Wave bertanda, pemindaian saat penyortiran, pemindaian saat pengemasan, pemindaian saat pengiriman, hingga sinergi pengadaan, Motolab tidak hanya mendongkrak efisiensi karyawan tetapi juga menekan tingkat kesalahan picking manual hingga di bawah 1%.

Yang tidak kalah penting, tim BigSeller berkomitmen penuh dengan mendatangi langsung gudang untuk membantu pelanggan membangun alur kerja yang sesuai dengan kondisi bisnis nyata mereka, bukan sekadar menyerahkan sebuah sistem mentah.

Bagi Motolab, BigSeller bukan lagi sekadar alat (tool) untuk memproses pesanan, melainkan fondasi operasional yang menyokong stabilitas gudang, menjamin akurasi pengiriman, serta mengawal pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Di saat bisnis lini depan melesat cepat, operasional gudang di lini belakang tidak boleh menjadi rantai terlemah yang memperlambat pertumbuhan tersebut.

Kisah sukses Motolab menunjukkan: bagi penjual dengan volume pesanan besar, menstandardisasi manajemen gudang sama dengan menyistematiskan kemampuan untuk terus tumbuh.

BigSeller akan terus berkomitmen mendampingi lebih banyak penjual di Asia Tenggara dalam menavigasi bisnis multi-platform dan pemenuhan pesanan bervolume tinggi, menghadirkan sistem yang lebih jelas, stabil, dan efisien untuk membawa bisnis Anda melangkah lebih jauh.


 

Budiman